Categories
Uncategorized

Kisah Klasik Kentang Dieng

Karakter kualitas kentang dari Dieng sudah begitu dikenal di pasaran. Kadar airnya rendah, renyah, tidak mudah mudah busuk, dan kulitnya yang tebal sehingga mampu melindungi umbi, banyak disuka masyarakat. “Kentang Dieng sudah terkenal. Kalau dibandingkan dengan kentang dari daerah yang lain, daya tahannya lebih baik. Ka lau kentang di daerah lain sudah membusuk, maka kentang Dieng justru mulai ber tunas,” ungkap Nurfaudin, petani kentang asal Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, saat disambangi AGRINA (23/4).

Separuh Lahan Menganggur

Dieng merupakan dataran tinggi penghasil kentang yang meliputi wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Hanya saja setelah dikembangkan puluhan tahun, budidaya kentang di Dieng meninggalkan permasalahan pelik yang kemudian menjadi klasik. Permasalahan tersebut adalah bibit, penyakit, dan ke suburan lahan yang terus berkurang. Lingkar an permasalahan itu kemudian mengakibatkan turunnya produktivitas. Sayangnya, pemerintah mengambil solusi mudah dengan menggerojokkan kentang impor di pasaran seperti terjadi beberapa waktu lalu. Dampaknya harga kentang Dieng jatuh. Bak sudah jatuh masih tertimpa tangga, petani pun menjerit. Akhirnya Desember lalu mereka berbondong-bondong ke Jakarta berunjuk rasa meminta pemerintah menyetop impor.

Sementara pihak Kementan mengaku tidak memberikan rekomendasi impor kentang. Nurfaudin menyatakan, pada periode Februari sampai Mei 2016 harga kentang telungkup di kisaran Rp4.000 – Rp6.000/ kg akibat importasi kentang granola. Pemilik 3,5 ha lahan kentang ini berhitung, kerugian yang ditanggung petani mencapai Rp54 juta – Rp80,7 juta/ha. Sebab, dengan produktivitas 13 ton/ha dan harga jual Rp4.000 – Rp6.000/kg, petani hanya mengantongi Rp52 juta – Rp78 juta. Padahal biaya produksi mencapai Rp132,7 juta/ha. Dampak importasi terhadap jatuhnya harga ini sangat terasa. Januari 2016 harga kentang masih bertengger pada kisaran Rp12 ribu/kg. “Harga itu langsung turun menjadi Rp4.000/kg,” tandasnya. Akibatnya petani tak mampu bangkit. Nurfaudin menaksir, separuh lahan kentang di Jawa Tengah saat ini menganggur. “Lahan kentang susut setengahnya, kira-kira 8.500 ha,” ulas petani kentang senior di Wonosobo ini. Bersyukur pasca-unjuk rasa petani kentang pada Desember 2016, harga kentang merambat naik. April lalu, harga sudah membaik di kisaran Rp10 ribu – Rp12 ribu/kg.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *