Categories
Uncategorized

Program Cocoa Life

Pemerintah melakukan upaya perbaikan sejak 2009 hingga 2013 melalui Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu (Gernas) Kakao. Kementan juga menyediakan benih tanaman perkebunan sehingga diharapkan dapat mendorong produksi dan mutu komoditas ekspor. Selain itu, sebut Bambang, pihaknya akan mengembangkan Lembaga Ekono mi Masyarakat (LEM). Harapannya sukses memberdayakan petani dan mampu membangun kemitraan dengan pihak swas ta maupun perbankkan. “Sejalan dengan nawacita Presiden Joko Widodo, bangkitkan komoditas strategis untuk ekspor,” papar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara ini.

Peran Swasta

Kendati sudah melalui Gernas Kakao dan lainnya, upaya itu dinilai Bambang belumlah cukup. Jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan total luas area kakao Nasional. “Hanya menyentuh sekitar 26% dari total 1,7 juta ha kebun,” urai mantan Ke pala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara ini. Perbaikannya belum mampu mengimbangi penurunan produktivitas dari kakao lain yang belum diperbaiki. Meskipun timbul kesadaran petani untuk memperbaiki sendiri, kendala ekonomi menjadi pembatas. Sementara tahun ini pemerintah lebih fokus pada swasembada pangan. Dengan alokasi anggaran yang terbatas, lulusan Manajemen Agribisnis IPB bidang Manajemen Perencanaan Strategi itu mendorong berbagai pihak untuk aktif berpartisipasi, terutama swasta untuk perbaikan kakao.

Karena diperlukan waktu, kerja sama, serta investasi dari para pemangku kepentingan terkait. “Kami mengapresiasi komitmen Mondelez dalam upaya membantu keberlanjutan produksi kakao di Indonesia,” ulas Bambang. Direktur Cocoa Life Asia Tenggara Mondelez International, Andi Sitti Asmayanti berujar, Mondelez internasional mendukung upaya pemerintah dalam mening katkan produktivitas dan nilai saing kakao di Tanah Air. Dalam hal ini Mondelez menggalakkan program Cocoa Life di beberapa sentra produksi kakao, seperti Sulawesi dan Sumatera. Tak tanggung-tanggung, lanjut Yanti, sapaannya, Mondelez berkomitmen menginvestasikan sebanyak US$400 juta dalam 10 tahun ke depan untuk mening katkan kesejahteraan 200 ribu petani dan sejuta anggota masyarakat pertanian kakao di enam negara, termasuk Indonesia. Sachin Prasad menambahkan, Monde lez International mendukung petani mem bangun pasokan kakao secara ber ke lanjutan. “Kami fokus pada peningkatan produktivitas dan pendapatan petani. Tak lupa mengupayakan peningkatan kualitas kehidupan komunitas petani kakao,” ucap Presiden Direktur Mondelez Indo nesia ini.

Program Cocoa Life

Semenjak dimulai pada 2013, Cocoa Life telah bekerja sama dengan lebih dari 25 ribu petani kecil dan sekitar 170 komunitas kakao di Sulawesi dan Sumatera. Yanti menuturkan, program ini mewujudkan ke hidupan yang lebih baik bagi petani kakao di dalam negeri. Dua tujuan utamanya, pemberdayaan petani dan peningkatan kesejah teraan. Tujuan itu bisa direalisasikan melalui beberapa program. Di antaranya, praktik pertanian lebih baik, ber wirausaha untuk meningkatkan pemasukan dari kakao ataupun hasil lainnya, pemberdayaan perempuan, dan menghapus pekerja anak secara paksa, dan menginspirasi generasi muda untuk hidup dari kakao. Program ini adalah bentuk nyata komitmen perusahaan dalam menjamin bahan-bahan produk cokelat berasal dari sumber berkelanjutan. Sachin menjelaskan, untuk mencapai kakao berkelanjutan, Mondelez bekerja dengan para ahli dalam hal teknologi baru untuk memonitor risiko deforestasi. “Cocoa Life merupakan komitmen jangka panjang Mondelez International di Indonesia,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *