Categories
Agribisnis

Bibit MCC 02 Mengembalikan Kejayaan Kakao

Masa keemasan kakao di Lam pung Timur (Lamtim) yang re dup sejak periode 2.000 mulai kem bali bersinar. Kehadiran bibit kakao unggul MCC 02 yang dikembangkan Ris wanto memberi harapan kejayaan kakao di Bumi “Bumei Tuwah Bepadan” itu. Serangan Penyakit Riswanto mengatakan, masa keemasan kakao di daerahnya yang dimulai era 1980-an berakhir tragis akibat serangan penyakit.

Meskipun masih banyak tanaman kakao berumur 15-25 tahun yang ber tahan hidup, produksinya rendah se hingga tidak ekonomis. “Itu terjadi setelah tanaman kakao dise rang penyakit busuk buah, VSD (Vascular Streak Dieback–penyakit pembuluh kayu), dan PBK (penggerek buah kakao) sejak tahun 2000-an,” ujarnya kepada AGRINA di Desa Banjaragung, Kec. Sekampung Udik, Kab. Lamtim. Penyakit busuk buah disebabkan cendawan Phytophthora palmivora, sedangkan VSD akibat ulah cendawan Oncobasidium theobromae.

Berbagai upaya dilakukan Dinas Pertanian dan petani tetapi tidak banyak mem bantu. Produksi kakao kian turun. Kondisi diperparah dengan makin tuanya tanaman. Petani tidak melakukan peremajaan karena khawatir tanaman baru bakal terserang penyakit VSD sudah endemik. Sebagai anak petani, ia terpanggil untuk menyelamatkan kakao di daerahnya. Meskipun berlatar belakang pendidikan STM Jurusan Eelektronika, Aris, sapaan akrabnya, tertarik meremajakan kakao.

“Kakao banyak memberikan manfaat bagi masyarakat Lamtim. Umumnya ru mah tembok dan anak-anak sekolah dibiayai dari penjualan kakao. Sayang jika kita bersikap ‘habis manis sepah dibuang’ terhadap kakao,” ungkapnya saat didam pingi Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Lampung Timur, Mursidi dan petani lainnya. Aris yang getol mela ku kan uji coba dan pe nelitian klon unggul ka kao pun “tercium” Dinas Pertanian Lamtim. Ia pun terpilih mengikuti pelatihan budidaya ka kao yang digelar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKI) di Jember, Jatim pada 2014.

Sepulang pelatihan, Aris kian mantap menekuni pembibitan kakao unggul. Peremajaan Untuk melakukan peremajaan, Aris me na warkan bibit klonal karena tanaman seragam, tajuknya lebih pendek, produksi tinggi, dan cepat berbuah. “Dalam umur 8 bulan sudah berbuah,” cetusnya. Ini jelas lebih baik ketimbang bibit dari biji yang, menurutnya, menghasilkan tanaman beragam, tajuk tinggi, lebih lama ber buah, dan tidak adaptif kondisi lahan.

Saat Aris menyampaikan gagasan mere majakan kakao, para petani menolak se bab ragu akan hasil dan ketahanan pe nyakit. Namun, ia tetap gigih mengajak te man sejawat untuk meremajakan ta nam an penghasil cokelat tersebut. Para pe muda itu tidak sepenuhnya yakin se hingga kebanyakan mereka hanya meremajakan separuh dari kebun. Dari empat klon yang diuji coba, Aris menemukan klon Masamba Cocoa Clone 02 (MCC 02) yang paling unggul.

Potensi hasilnya mencapai 3.000-3.500 kg/ha/ tahun. Klon ini lebih tahan serangan busuk buah, VSD, dan hama PBK, serta cocok dengan topografi Lamtim yang berketinggian 30 m dpl. Biji klon juga berukuran besar. Bobot dua biji klon ini sama dengan lima biji kakao lokal. Kendati sama-sama klon unggul dari Masamba, Kab. Luwu Utara, Sulsel, MCC 02 lebih unggul dibandingkan MCC 01 yang rentan serangan VSD dan PBK. Se mentara klon lain, Sulawesi 1 dan Sula wesi 2, produksinya hanya 1.800-2.500 kg/ha/tahun.

Bahkan, klon Sulawesi 1 ren tan terhadap PBK meski lebih tahan VSD. Aris berpendapat, klon MCC 02 juga tumbuh lebih cepat dari klon yang sela ma ini ditanam petani meski dosis pupuk NPK diturunkan separuhnya, yakni 400 g/batang/tahun. Efisiensi ini membuat biaya produksi lebih rendah, hanya Rp15 ribu/ha, sedangkan produksi lebih tinggi hingga dua kali lipat.

Pada klon lain penyambungan dilaku kan pada umur 5 bulan. Sambung pucuk pada klon MCC 02 bisa dilakukan saat umur 3,5 bulan. “Ini keunggulan jika meng gunakan batang bawah klon MCC 02,” ungkap dia. Aris bersama kelompoknya mampu meng hasilkan 10 ribu batang bibit kakao klon MCC 02 per periode dari kebun induk seluas 3 ha.

Karena banyak petani yang mulai tertarik meremajakan kakao, jumlah itu jauh dari cukup sehingga petani ter pak sa mengantre. Pelatihan dan SOP Agar bibit unggul yang ditanam petani bisa tumbuh, berbuah, dan berproduksi se suai saat uji coba, Aris memberi pelatih an dan standard operational procedure (SOP) mulai dari persiapan lahan hingga pemeliharaan tanaman. Bahkan, suami dari Eli Yuliani itu juga memantau setiap kebun yang menanam bibitnya. “Dengan keleng kapan seperti ini sebetulnya terlalu murah harga bibit Rp11 ribu/batang,” akunya.

Kendati begitu, ia tidak menaikkan har ga karena niat dan misinya mengemba li kan kejayaan kakao di daerah serta me ning katkan kesejahteraan petani. Bahkan, Aris menanggung biaya pertemuan ber kala yang membahas berbagai hal me ngenai budidaya kakao. Saat ini ada 20- an ha pertanaman kakao yang menggunakan bibit MCC 02.

Lahan itu tersebar di tujuh desa di Lamtim. Aris menuturkan, jika petani mengikuti SOP, maka tanaman akan mulai berbuah pa da umur setahun dan berproduksi opti mal mencapai 3-3,5 ton/ha/tahun hingga umur 12 tahun. Dengan harga kakao Rp30 ribu/kg, petani pemilik 2 ha kebun akan memperoleh pendapatan rata-rata Rp4 juta/bulan. Pendapatan sebesar itu cukup layak bagi keluarga kecil di pedesaan un tuk memenuhi kebutuhan hidup. Aris mengungkap, pendapatan bakal lebih besar jika biji kakao difementasi. Namun, ia belum melakukannya karena masih berjuang membenahi sektor hulu.

“Setelah produksi tinggi, baru dilakukan fermentasi. Petani memiliki posisi tawar dengan perusahaan pengolahan karena produknya bermutu tinggi juga volume nya besar. Dengan cara ini baru petani bi sa lebih sejahtera,” cita-cita ayah Alfi Khoirul Amar itu. Berkat kegigihan mengembangkan klon kakao unggul, Pemkab Lamtim meng ang katnya menjadi penyuluh swadaya. Pada 2017, ia dinobatkan menjadi penyu luh swadaya berprestasi tingkat kabu paten. Mursidi, Kabid Perkebunan Dinas Perta nian Lamtim menambahkan, pihaknya mendukung penuh upaya pengembangan bibit unggul kakao yang dilakukan Aris dan kawan-kawannya.

Namun, bibit ka kao MCC 02 masih terkendala sertifikasi sehingga belum bisa masuk dalam pro gram melalui anggaran APBD. Dinas mem bantu dalam bentuk lain, seperti pen didikan dan pelatihan petani serta me nyediakan pupuk sehingga upaya mengembalikan kejayaan kakao di daerah ini bisa terealisasi.

Mursidi juga berupaya memfasilitasi dan membantu sertifikasi bibit kakao yang dikembangkan Aris dan kawan-ka wan. Apalagi, klon unggul itu tumbuh su bur di Lampung Timur, tahan penyakit, dan sebagian sudah berproduksi.